Translation EN-ID Barack Obama’s A Promised Land

barack obama's a promised land translation by nazkamal whatsapp 6285157055570

Below is my translation for Barack Obama’s themes from his book A Promised Land. If you’re interested in my work, please contact me via WhatsApp.

image of green lake view apartment ciputat indonesia by kamal studio for rent whatsapp 6285157055570
Kamal Studio for rent
Part One | The BetBagian Satu | Taruhan
“I had made a bet a long time ago, and this was the point of reckoning.”“Saya pernah bertaruh di waktu lampau, dan ini saatnya melakukan perhitungan.”
While remembering his open-air walks along the West Colonnade of the White House, Barack Obama takes us back to
an earlier time, recalling the influences of his maternal grandparents and mother; his upbringing and education, from
“lackadaisical student” to Harvard standout; his awakening to his mixed-race identity, “the very strangeness of my heritage”; and the power of social movements, where ordinary people joined together to make a change. Where would Obama make his mark in the world? Then he meets and falls in love with Michelle Robinson, and asks her the most important question of his life. There are challenges for him and Michelle. Driven to help better his community, Obama decides to enter politics and wins a hard-fought campaign to become an Illinois state senator while struggling to balance marriage and new fatherhood. Does the difference he is making justify the sacrifice? After a disastrous run for Congress, Obama sets his sights on a more audacious target: the U.S. Senate. His victory, along with his 2004 Democratic National Convention speech, raises Obama’s profile to the stratosphere and inspires some to wonder what’s next for the young
senator. After receiving insight from two Democratic heavyweights—and conferring with his most trusted advisor, Michelle—Barack Obama rolls the dice and makes a fateful decision, “one that would inexorably change my life.”
Sambil mengingat ketika berjalan santai di udara terbuka di sepanjang West Colonnade di Gedung Putih, Barack Obama membawa kita kembali ke masa lalu, mengingat pengaruh kakek nenek (orangtua ibu) dan ibunya; pengasuhan dan pendidikannya, dari “siswa loyo” hingga menjadi bintang Harvard; kebangkitannya dari identitas ras campurannya, “keanehan yang sangat dari garis keturunan saya”; dan kekuatan gerakan sosial, di mana orang-orang biasa bergabung untuk membuat perubahan. Di manakah Obama akan membuat jejaknya di dunia? Kemudian dia bertemu dan jatuh cinta dengan Michelle Robinson, dan menanyakan sebuah pertanyaan terpenting dalam hidupnya. Terdapat tantangan baginya dan Michelle. Di dorong untuk membantu komunitasnya menjadi lebih baik, Obama memutuskan untuk memasuki area politik dan memenangkan kampanye setelah berjuang keras untuk menjadi senator negara bagian Illinois sambil berjuang untuk menyeimbangkan pernikahan dan status barunya sebagai seorang ayah. Apakah perbedaan yang dia buat membenarkan pengorbanan? Setelah pencalonan Kongres yang gagal, Obama mengarahkan pandangannya pada target yang lebih berani: Senat AS. Kemenangannya, bersama dengan pidatonya di Konvensi Nasional Partai Demokrat 2004, mengangkat profil Obama ke stratosfer dan menginspirasi banyak orang untuk bertanya-tanya apa yang akan selanjutnya terjadi pada senator muda ini. Setelah menerima wawasan dari dua tokoh senior Demokrat — dan berunding dengan penasihat terpercayanya, Michelle — Barack Obama melempar dadu dan membuat keputusan yang menentukan, “keputusan yang pasti akan mengubah hidup saya”.
Part Two I Yes We CanBagian Dua | Kita Pasti Bisa
“For all our differences, we remained bound as one people . . . together, men and women of goodwill could find a way to a better future.”“Dengan semua perbedaan, kita tetap terikat sebagai satu kesatuan. . . bersama-sama, pria dan wanita yang memiliki niat baik dapat menemukan cara menuju masa depan yang lebih baik. “
On a February morning in 2007, Obama announces his candidacy for president, beginning a whirlwind campaign that over the course of two years will feel like “catching lightning in a bottle.” But nothing is certain. There are missteps, uneven debate performances, clumsy gaffes, the initial reticence of Black supporters, a seasoned opponent in Hillary Clinton, the advent of “birtherism,” and a pastor who cursed the United States of America. In time, Obama realizes his
biggest adversary is that he is “running against the implacable weight of the past”—while the two Davids (Axelrod and Plouffe) build a campaign operation that becomes a force of nature, navigating Iowa (a seismic eight-point margin of victory), New Hampshire (a galvanizing loss), and the gauntlet of states that followed. Michelle overrides her reticence about politics to become effective and fearless on the stump. After the seemingly never-ending primary, and moving to unify the Democratic Party, the Obama team pivots to the general election—with an overseas trip to meet with world leaders, the careful selection of his running mate (Joe Biden!), and the pageantry of party conventions. John McCain makes an unconventional choice for VP, a “potent disrupter” whose “incoherence didn’t matter to the vast majority of Republicans.” Then comes the sobering call from Treasury Secretary Hank Paulson about the looming financial crisis, and, in October’s waning days, Obama’s urgent flight to Hawaii to say goodbye to his beloved grandmother Toot, who dies on the eve of the election. The next night, after Pennsylvania is called for Obama, Malia turns to her father and asks,
“Daddy, did you win?” Obama responds: “I think so, sweetie.”
Pada suatu pagi di bulan Februari 2007, Obama mengumumkan pencalonannya sebagai presiden, memulai kampanye yang panjang
selama dua tahun akan terasa seperti “menangkap petir dalam botol”. Tapi tidak ada yang pasti. Ada salah langkah, penampilanan debat yang tidak seimbang, kesalahan yang canggung, keengganan awal pendukung masyarakat kulit hitam, lawan yang berpengalaman di kubu Hillary Clinton, munculnya “birtherism,” dan seorang pendeta yang mengutuk Amerika Serikat. Pada waktunya, Obama menyadari musuh terbesarnya adalah bahwa dia “berlari melawan beban berat masa lalu” —sementara kedua David (Axelrod dan Plouffe) membangun operasi kampanye yang menjadi kekuatan alam, menavigasi Iowa (margin kemenangan delapan poin yang seismik), New Hampshire (kekalahan yang menyemangati), dan tantangan negara bagian yang mengikutinya. Michelle mengesampingkan keengganannya akan politik untuk menjadi efektif dan tak kenal takut ketika berada di ujung tanduk. Setelah pemilihan pendahuluan yang panjang, dan bergerak untuk menyatukan Partai Demokrat, tim Obama bersiap ke pemilihan umum — dengan sebuah perjalanan ke luar negeri untuk bertemu dengan beberapa pemimpin dunia, pemilihan pasangannya dengan cermat (Joe Biden!), dan arak-arakan konvensi partai. John McCain membuat pilihan yang tidak biasa untuk VP, “pengganggu kuat” yang “ketidak-konsistenannya tidak penting bagi sebagian besar pendukung partai Republik.” Kemudian datanglah panggilan serius dari Menteri Keuangan Hank Paulson tentang krisis keuangan yang mengancam, dan, di hari-hari yang tersisa di bulan Oktober, penerbangan mendesak Obama ke Hawaii untuk mengucapkan selamat tinggal kepada nenek tercintanya, Toot, yang meninggal pada malam pemilihan. Malam berikutnya, setelah Pennsylvania memilih Obama, Malia menoleh ke ayahnya dan bertanya, “Ayah, apakah kamu menang?” Obama menjawab: “Saya rasa begitu, Sayang.”
Part Three | Renegade

“Suck it up, I told myself. Tighten your laces. Cut your rations. Keep moving.”
Bagian Ketiga | Renegade

“Tahanlah, ujarku pada diri sendiri. Kencangkan tali sepatumu. Potong jatahmu. Terus bergerak.”
President-elect Obama’s first visit to the Oval Office takes place just days after the election, when, following tradition, the Bushes invite Obama and Michelle for a tour of their soon-to-be home. The Bush daughters, Barbara and Jenna, rearrange their schedules to give Malia and Sasha their own tour of the “fun” parts of the White House. Back in Chicago Obama sets out to fill key positions, most important, an economic team. Despite the passage of TARP, the financial markets remained paralyzed. Meanwhile, Michelle works to make the kids’ move to the White House as smooth as possible. The inauguration is “like our wedding,” Obama tells Michelle, “but with a bigger guest list.” After the swearing-in, the real work begins. Obama signs an executive order banning torture launches what he hopes will be a year-long process to close Guantánamo Bay, and tightens restrictions on lobbyists. On his ninth day in office, Obama signs his first bill into law: the Lilly Ledbetter Fair Pay Act. The biggest challenge remains the economy, which continues its free fall. A major stimulus package must be passed quickly but Republicans, no matter the consequences for the country, begin their strategy of intransigence. But three GOP senators cross the aisle and the American Recovery and Reinvestment Act is signed into law. When Obama launches modest programs to help shore up the housing market, a CNBC business commentator’s on-air rant goes viral. To stabilize the foundering banks, Treasury Secretary Tim Geithner devises a “stress test” approach for financial institutions, and in late April the economy begins to turn a corner. Obama describes his national security team
and the single most important job of the president: to keep the American people safe. At the start of each day, Obama pours
over the President’s Daily Brief. Secretary of Defense Robert Gates presents a plan to withdraw troops from Iraq, but ending the war in Afghanistan proves more challenging, with friction growing between the White House and the Pentagon. Obama finds inspiration from his visits to wounded soldiers at Walter Reed Army Medical Center and the letters from constituents, “an everyday reminder of the covenant I now had with the American people.”
Kunjungan pertama Presiden terpilih Obama ke Oval Office terjadi hanya beberapa hari setelah pemilihan, ketika, mengikuti tradisi, Bush mengundang Obama dan Michelle untuk tur ke rumah mereka yang akan segera ditempati. Putri Bush, Barbara dan Jenna, menunda jadwal mereka untuk dapat memberikan Malia dan Sasha tur mereka sendiri di bagian “yang menyenangkan” dari Gedung Putih. Kembali ke Chicago Obama bersiap untuk mengisi posisi kunci, yang paling penting, tim ekonomi. Terlepas dari berlalunya TARP, pasar keuangan tetap lumpuh. Sementara itu, Michelle berupaya membuat kepindahan anak-anak ke Gedung Putih semulus mungkin. Pelantikannya “seperti pernikahan kami”, kata Obama kepada Michelle, “tetapi dengan daftar tamu yang lebih banyak.” Setelah pelantikan, pekerjaan yang sebenarnya di mulai. Obama menandatangani perintah eksekutif yang melarang penyiksaan meluncurkan apa yang dia harapkan akan tercapai dalam setahun untuk menutup Teluk Guantánamo, dan memperketat pembatasan pada para pelobi. Pada hari kesembilannya di kantor, Obama menandatangani rancangan undang-uang pertamanya menjadi hukum: Undang-Undang Pembayaran Adil Lilly Ledbetter. Tantangan terbesar tetap ekonomi, yang terus terjun bebas. Paket stimulus utama harus segera disahkan tetapi Partai Republik, tidak peduli konsekuensinya bagi negara, memulai strategi kerasnya. Tapi tiga senator GOP berhasil lolos dan American Recovery and Reinvestment Act ditanda-tangani menjadi undang-undang. Ketika Obama meluncurkan program sederhana untuk membantu menopang pasar perumahan, kata-kata kasar di siaran komentator bisnis CNBC menjadi viral. Untuk menstabilkan bank-bank pendiri, Menteri Keuangan Tim Geithner merancang pendekatan “uji tekanan” untuk lembaga keuangan, dan pada akhir April ekonomi mulai berbelok. Obama menjelaskan bahwa tim keamanan nasionalnya dan satu-satunya tugas terpenting presiden: menjaga keselamatan rakyat Amerika. Di awal setiap hari, Obama memberikan Briefing Harian Presiden. Menteri Pertahanan Robert Gates mempresentasikan rencana untuk menarik pasukan dari Irak, tetapi menyelesaikan perang di Afghanistan terbukti lebih menantang, dengan masalah yang membesar antara Gedung Putih dan Pentagon. Obama menemukan inspirasi dari kunjungannya ke tentara yang terluka di Walter Reed Army Medical Center dan surat dari konstituen, “pengingat harian akan perjanjian yang sekarang saya miliki dengan rakyat Amerika.”
Part Four | The Good Fight

“Our history has always been the sum total of the choices made and the actions taken by each individual man and woman. . . . It has always been up to us.”
Bagian Keempat | Pertarungan yang Baik

“Sejarah tidak dapat di rubah dan tindakan yang di ambil oleh setiap individu pria dan wanita. . . . kita selalu punya pilihan. “
President Obama steps onto the world stage—attending his first G20 summit in London, meeting with Russian President Dmitry Medvedev, giving his famous counterterrorism speech in Cairo, attending the 65th anniversary of D-Day. “You’ve been cursed with people’s high expectations,” former president of the Czech Republic Václav Havel warns him, “because it means they are also easily disappointed.” As his global tour wraps up, the president must also deal with a band of
pirates who have captured a cargo ship off the coast of Somalia, holding American captain Richard Phillips and his crew hostage. And there are important issues closer to home needing his attention, including the arrival of the H1N1 virus that threatens to spread if not contained and the famous “beer summit” between professor Henry Louis Gates, Jr., and Sergeant James Crowley, which furthers necessary discussions on race. When Supreme Court Justice David Souter announces his retirement, President Obama sees it as an opportunity to help shape the diversity of the Court, appointing Sonia Sotomayor, the nation’s first Latina justice and the Court’s third woman. But perhaps his biggest post–Recovery Act fight is making good on his promise to offer healthcare to every American—an effort that will face many hurdles and critics before its passage as the Affordable Care Act.
Presiden Obama melangkah ke panggung dunia — menghadiri KTT G20 pertamanya di London, bertemu dengan Presiden Rusia Dmitry Medvedev, memberikan pidato kontraterorisme yang terkenal di Kairo, menghadiri peringatan 65 tahun D-Day. “Anda telah di kutuk dengan harapan tinggi orang,” mantan presiden Republik Ceko Václav Havel memperingatkannya, “karena itu berarti mereka juga mudah kecewa.” Saat tur globalnya berakhir, presiden juga harus berurusan dengan sekelompok bajak laut yang telah menangkap kapal kargo di lepas pantai Somalia, menahan kapten Amerika Richard Phillips dan menyandera krunya. Dan ada masalah penting yang lebih dekat dengan rumah yang membutuhkan perhatiannya, termasuk datangnya virus H1N1 yang mengancam untuk menyebar jika tidak diatasi dan beriringan dengan “beer summit” yang terkenal antara profesor Henry Louis Gates, Jr., dan Sersan James Crowley, yang membutuhkan diskusi lanjutan. Ketika Hakim Agung David Souter mengumumkan pengunduran dirinya, Presiden Obama melihatnya sebagai kesempatan untuk membantu membentuk keberagaman Mahkamah, menunjuk Sonia Sotomayor, hakim Latina pertama di negara itu dan wanita ketiga di Pengadilan. Tapi mungkin pertarungan terbesarnya pasca-Recovery Act adalah memenuhi janjinya untuk menawarkan perawatan kesehatan kepada setiap orang Amerika — sebuah upaya yang akan menghadapi banyak rintangan dan kritik sebelum ditetapkan sebagai Affordable Care Act.
Part Five | The World As It IsBagian Lima | Dunia Seperti Apa Adanya
“Whatever you do won’t be enough, I heard their voices say. Try anyway.”“Apa pun yang Anda lakukan tidak akan cukup, saya mendengar suara mereka. Tapi di coba saja. “
As the president becomes more familiar with the job, he must also confront one of its hardest, most humbling tasks: writing and sending condolence letters to the families of fallen service members. He forms a strong working relationship with Secretary of Defense Robert Gates. But General Stanley McChrystal proposes a full-blown counterinsurgency campaign in Afghanistan, testing the president’s promise to draw down troops in the region. Amid these tensions between the White House and the Pentagon, President Obama wins the Nobel Peace Prize—an irony not lost on him. To keep Iran
from acquiring nuclear weapons, the administration looks for allies—and adversaries—to support sanctions on the regime. This is one of the reasons Obama takes his first official trip to Russia, where he finally comes face-to-face with Vladimir Putin. Obama and his team then travel to Asia, where they must walk a fine line between understanding the world’s dependence on a healthy Chinese economy and holding that nation accountable for its production practices. On the home front, the administration enters a tough fight to push climate change legislation through Congress. An economy based on coal, gas, and oil makes it that much harder to invest in clean energy alternatives, and some of the Recovery Act’s environmental investments aren’t panning out as hoped. With the Kyoto Protocol due to expire, the president travels to Copenhagen to negotiate climate standards with world leaders. That is until the Chinese premier Wen Jiabao and his ministers hide in a conference room in an attempt to blame the U.S. for failing to reach an agreement. When Obama hears their plan, he turns to Secretary of State Hillary Clinton and asks, “When’s the last time you crashed a party?”
Ketika presiden mulai terbiasa dengan pekerjaannya, dia juga harus menghadapi salah satu tugas tersulit dan paling menyayat hati: menulis dan mengirim surat belasungkawa kepada keluarga anggota dinas yang tewas. Dia menjalink hubungan kerja yang kuat dengan Menteri Pertahanan Robert Gates. Tetapi Jenderal Stanley McChrystal mengusulkan kampanye kontra-pemberontakan besar-besaran di Afghanistan, menguji janji presiden untuk menarik pasukan di wilayah tersebut.
Di tengah ketegangan antara Gedung Putih dan Pentagon, Presiden Obama memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian — sebuah ironi yang tidak pernah lepas darinya. Untuk mencegah Iran dari memperoleh senjata nuklir, pemerintah mencari sekutu — dan musuh — untuk mendukung sanksi terhadap rezim Iran. Inilah salah satu alasan Obama melakukan perjalanan resmi pertamanya ke Rusia, di mana dia akhirnya bertemu langsung dengan Vladimir Putin. Obama dan timnya kemudian melakukan perjalanan ke Asia, di mana mereka harus menempuh garis tipis antara memahami ketergantungan dunia pada ekonomi China yang sehat dan meminta pertanggung-jawaban bangsa itu atas praktik produksinya. Di dalam negeri, pemerintah memasuki perjuangan keras untuk mendorong undang-undang perubahan iklim melalui Kongres. Ekonomi yang berbasis batu bara, gas, dan minyak membuat usaha untuk berinvestasi pada alternatif energi bersih lebih sulit, dan beberapa investasi lingkungan Undang-Undang Pemulihan tidak berjalan seperti yang diharapkan. Dengan berakhirnya Protokol Kyoto, presiden pergi ke Kopenhagen untuk menegosiasikan standar iklim dengan para pemimpin dunia. Itu terjadi sampai Perdana Menteri China Wen Jiabao dan para menterinya bersembunyi di ruang konferensi dalam upaya menyalahkan AS akibat gagal dalam mencapai kesepakatan. Ketika Obama mendengar rencana mereka, dia menoleh ke Menteri Luar Negeri Hillary Clinton dan bertanya, “Kapan terakhir kali Anda menggagalkan sebuah pesta?”
Part Six | In The Barrel

“It’s in the nature of politics, and certainly the presidency, to go through rough patches.”
Bagian Enam | Tugas Yang Berat

Ini adalah sifat dasar politik, dan tentu saja kepresidenan, pasti akan melalui masa-masa sulit. ”
For most of Obama’s second year, the administration finds itself facing more scrutiny. The GOP—with its newly emerging Tea Party—seizes on any misstep, perceived or real, and amplifies it; the media casts an unfounded somber narrative on the president; and Americans are growing frustrated with the slow pace of the economic upturn. Just as the jobs numbers show improvement and the team turns its message to a “Recovery Summer,” Greece’s economy implodes and Obama and Treasury Secretary Tim Geithner work on a plan to keep it viable—one they hope that the austerityfocused E.U. and the IMF can support. Another political headache comes when, after speaking a little too candidly in
front of a reporter, General Stanley McChrystal hands in his resignation and the president appoints General David Petraeus to command the coalition forces in Afghanistan. Around the same time, Obama looks at options for how to handle prosecuting the 242 detainees at Guantánamo Bay. Chief of Staff Rahm Emanuel, wanting to restart momentum, suggests Wall Street reform. Harvard law professor and bankruptcy expert Elizabeth Warren weighs in and proposes a new consumer finance protection agency. By the time the Dodd-Frank Wall Street Reform and Consumer Protection
Act is passed—the most sweeping change to the financial rules since the New Deal—the nation has turned its eyes to the Deepwater Horizon explosion and the tons of oil leaking into the ocean. The Democrats are underdogs as they head into the 2010 midterms. Despite all of the administration’s accomplishments, and the president barnstorming the country in the weeks prior to the election, Republicans win big and take control of Congress. Yet President Obama follows up with the most productive lame-duck session in history, which includes the repeal of “Don’t Ask, Don’t Tell” and bringing the DREAM Act to a vote.
Untuk sebagian besar tahun kedua Obama, pemerintahan menghadapi lebih banyak pengawasan.
GOP — dengan Tea Party yang baru muncul — memanfaatkan setiap kesalahan langkah, yang fiktif atau fakta, dan memperbesar-masalahnya; media menyebarkan narasi muram yang tidak berdasar tentang presiden; dan orang Amerika semakin frustrasi dengan lambatnya kemajuan ekonomi.
Dengan meningkatnya jumlah pekerjaan dan tim mengubah pesannya menjadi “Musim Panas Yang Lebih Baik”, ekonomi Yunani meledak dan Obama serta Menteri Keuangan Tim Geithner membuat sebuah rencana untuk membuatnya tetap berjalan — yang mereka harap agar Uni Eropa yang berfokus pada penghematan dan IMF dapat mendukung. Masalah politik lainnya datang ketika, setelah berbicara terlalu terbuka di depan seorang reporter, Jenderal Stanley McChrystal menyerahkan pengunduran dirinya dan presiden menunjuk Jenderal David Petraeus untuk memimpin pasukan koalisi di Afghanistan. Kira-kira pada waktu yang sama, Obama melihat opsi bagaimana menangani penuntutan terhadap 242 tahanan di Teluk Guantánamo. Kepala Staf Rahm Emanuel, yang ingin memulai kembali momentum, menyarankan reformasi Wall Street. Profesor hukum Harvard dan pakar kebangkrutan Elizabeth Warren mempertimbangkan dan mengusulkan badan perlindungan keuangan konsumen yang baru. Pada saat Reformasi dan Perlindungan Konsumen Undang-undang Dodd-Frank Wall Street disahkan — perubahan terbesar pada aturan keuangan sejak New Deal — negara telah mengalihkan fokusnya ke ledakan Horizon Laut Dalam dan berton-ton minyak yang bocor ke laut. Demokrat adalah underdog saat mereka menuju paruh semester 2010.
Terlepas dari semua pencapaian administrasi, dan presiden mengobrak-abrik negara dalam beberapa minggu sebelum pemilihan, Partai Republik menang besar dan mengendalikan Kongres.
Namun Presiden Obama menindaklanjuti dengan sesi lemah paling produktif dalam sejarah, yang mencakup pencabutan “Jangan Tanya, Jangan Katakan” dan membawa UU DREAM ke pemungutan suara.
Part Seven | On The High Wire

“In the conduct of foreign policy, I had to constantly balance competing interests . . . just because I couldn’t in every instance elevate our human rights agenda over other considerations didn’t mean that I shouldn’t try to do what I could, when I could, to advance what I considered to be America’s highest values.”
Bagian Tujuh | Tugas Yang Genting

“Dalam pelaksanaan politik luar negeri, saya harus selalu menyeimbangkan banyak kepentingan. . . hanya karena saya tidak bisa selalu mengedepankan agenda hak asasi manusia di atas pertimbangan lain tidak berarti bahwa saya tidak boleh mencoba melakukan apa yang saya bisa, ketika saya bisa, untuk memajukan apa yang saya anggap sebagai nilai tertinggi Amerika.”
President Obama turns his focus to the long-term challenges in the Middle East and North Africa. He attempts to restart peace talks between Israeli prime minister Benjamin Netanyahu and his Palestinian counterpart Mahmoud Abbas. Around the same time, in the small North African country of Tunisia, an impoverished fruit vendor sets himself on fire in an act of desperation and protest against his government. The incident inspires massive demonstrations throughout the region—called the Arab Spring—which leads to the end of Hosni Mubarak’s reign in Egypt. Less than a week after Mubarak
leaves office, Libyan leader Muammar Gaddafi’s security forces shot into a crowd of citizens, sparking protests, and anti-Gaddafi forces take control of Libya’s second-largest city, Benghazi. President Obama must weigh the nation’s moral obligations with the dire risks of intervening. With a plan approved by NATO and Middle Eastern allies, he orders airstrikes. On the home front, Obama experiences more condemnation from Republicans, no matter what decisions he makes, and “birtherism” enter mainstream discussion in an attempt to undermine the legitimacy and legacy of America’s first Black president. While finally addressing the manufactured controversy by releasing his birth certificate, Obama has more pressing issues at hand. Having made the capture of Osama bin Laden a priority two years earlier, reports come in that the mastermind behind the 9/11 attacks may be living on a compound in Pakistan. A secret operation is planned and—after careful consideration and discussion—the president gives the order to raid bin Laden’s compound. After several tense hours, the news arrives: “Geronimo ID’d . . . Geronimo EKIA.” Enemy killed in action. After addressing the nation, Obama hears the raucous, rhythmic chants of “USA! USA! USA!” coming from Pennsylvania Avenue—a sound that echoes far and wide into the night.
Presiden Obama mengalihkan fokusnya ke tantangan jangka panjang di Timur Tengah dan Afrika Utara. Dia mencoba memulai kembali pembicaraan damai antara perdana menteri Israel Benjamin Netanyahu dan timpalannya dari Palestina Mahmoud Abbas. Kira-kira pada waktu yang sama, di negara kecil Tunisia di Afrika Utara, seorang pedagang buah yang miskin membakar dirinya sendiri sebagai tindakan putus asa dan memprotes pemerintahnya. Insiden tersebut menginspirasi demonstrasi besar-besaran di seluruh wilayah — yang di sebut Musim Semi Arab — yang berujung pada berakhirnya pemerintahan Hosni Mubarak di Mesir. Kurang dari seminggu setelah Mubarak
meninggalkan jabatannya, pasukan keamanan pemimpin Libya Muammar Gaddafi menembak ke kerumunan warga, memicu protes, dan pasukan anti-Gaddafi menguasai kota terbesar kedua Libya, Benghazi. Presiden Obama harus mempertimbangkan kewajiban moral bangsa dengan risiko campur tangan yang mengerikan. Dengan rencana yang disetujui oleh NATO dan sekutu Timur Tengah, dia memerintahkan serangan udara. Di dalam negeri, Obama mengalami lebih banyak kecaman dari Partai Republik, tidak peduli apa keputusan yang dia buat, dan “birtherisme” memasuki diskusi arus utama dalam upaya merusak legitimasi dan warisan presiden kulit hitam pertama Amerika. Obama akhirnya mengatasi kontroversi yang dibuat-buat dengan merilis akta kelahirannya, dia memiliki lebih banyak masalah yang mendesak. Setelah memprioritaskan penangkapan Osama bin Laden dua tahun sebelumnya, muncul laporan bahwa dalang di balik serangan 9/11 mungkin tinggal di sebuah kompleks di Pakistan. Sebuah operasi rahasia direncanakan dan — setelah pertimbangan juga diskusi yang cermat — presiden memberikan perintah untuk menyerang kompleks bin Laden. Setelah beberapa jam yang menegangkan, berita datang: “Geronimo ID’d. . . Geronimo EKIA.” Musuh tewas dalam aksi. Setelah berpidato di depan negaranya, Obama mendengar nyanyian berirama “USA! AMERIKA SERIKAT! AMERIKA SERIKAT!” datang dari Pennsylvania Avenue — suara yang bergema jauh hingga malam.

Published by Nazhan Kamal

Ex-vampire who travel Indonesia for coffee, sea breeze, and friendship. Owner/tutor of engRIsh, founder of Indonesia Hyperhidrosis Center, ex-hotelier in UK-USA-MV.

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: