Translation EN-ID Shaykh Bin Baz’s Important Lessons for Every Muslim

image of book cover from Shaykh Bin Baz's Important Lessons for Every Muslim translated into Bahasa Indonesia by NazKamal whatsapp 6285157055570

Bismillaah. as salaamu ‘alaykum wa rahmatullaah wa barakaatuh. Below is my translation portfolio for Shaykh bin Baz’s first chapter of his book with the above title.

For translation EN-ID queries, please WhatsApp Nazhan at 62-851-570-55-570

image of green lake view apartment ciputat indonesia by kamal studio for rent whatsapp 6285157055570
Kamal Studio for rent
Lesson One


Surat Al-Fatihah And Other Short Surahs
One must learn Surat Al-Fatihah and whatever possible from the other short Surahs; from Surat Az-Zalzalah to Surat An-Nas, reciting them correctly; memorizing them, and their explanations which are required for one to understand
Pelajaran Pertama


Surat Al-Fatihah Dan Surat Pendek Lainnya
Seseorang harus mempelajari Surat Al-Fatihah dan surat-surat pendek lainnya; dari Surat Az-Zalzalah sampai Surat An-Nas, membacanya dengan benar; menghafalnya, dan memahami penjelasan.
The Explanation of al-Isti’athah


That is to say: A’oothu billahi minash-Shaitaanir-Rajeem (I seek refuge in Allah from the accursed Shaitan).

A’oothu: I seek refuge, protection, and fortification in You, O Allah.

Billahi: The Lord of all things; the true God Who is worshipped alone, and He has no partner.

Ash-Shaitaan: Otherwise known as Iblis or the Devil, may Allah’s curse be upon him.

Ar-Rajeem: The one who is stoned, repelled, and banished – banished from all mercy and good; he has no power to harm us, neither in our worldly affairs nor in our religion.
Penjelasan al-Isti’adzah


Artinya: A’uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiim (Aku berlindung kepada Allah dari setan terkutuk).

A’uudzu: Saya mencari perlindungan, hanya kepada Engkau Ya Allah.

billaahi: Sesembahan atas segala sesuatu; Tuhan yang benar yang di sembah sendirian, dan Dia tidak memiliki sekutu.

Asy-Syaitaan: Atau di kenal sebagai Iblis atau setan, semoga kutukan Allah menyertainya.

Ar-Rajim: Orang yang dilempari batu, di tolak, dan di buang; di buang dari semua belas kasihan dan kebaikan; dia tidak memiliki kekuatan untuk menyakiti kita, baik dalam urusan duniawi maupun dalam agama.
The Meaning of al-Isti-athah
I seek refuge and fortification from Allah my Lord, against Shaitan (Satan) the accursed, that he confuses me while I recite, or that he should make me go astray, to destruction and misery.
Arti dari al-Isti-adzah
Aku berlindung kepada Allah Tuhanku, dari Setan yang terkutuk, yang
membuatku bingung saat aku melafalkan, atau dia akan membuatku tersesat, menuju kehancuran dan kesengsaraan.
When the Prophet ShalAllaahu ‘Alayhi wa Sallam would stand up at night to pray, he would begin his prayer with the Takbir, then say:
I take refuge with Allah, the All-Hearing, the ALL-Knowing, from the accursed Shaitan – from his pride, his poetry, and his madness. (It was recorded by the Sunan Compilers)
Ketika Nabi ShalAllaahu ‘Alayhi wa Sallam berdiri di malam hari untuk berdoa, dia akan memulai sholatnya dengan Takbir, lalu berkata:
Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar, Yang Maha Mengetahui, dari Setan terkutuk – dari kesombongan, puisi, dan kegilaannya. (Diriwayatkan oleh Penyusun Sunan)
The Ruling On al-Isti’athah
Whenever one is about to recite the Qur’an – whether it is a chapter or more – it is Sunnah to first say, “I seek refuge in Allah from the accursed Shaitan.” It is also recommended to say this phrase when one is angry or when one has evil thoughts.
Hukum al-Isti-adzah
Kapanpun seseorang akan membaca Alquran – apakah itu sebuah surat atau lebih – adalah Sunnah untuk memulainya dengan ucapan, “Aku berlindung kepada Allah dari Setan yang terkutuk.” Juga dianjurkan untuk mengucapkannya ketika seseorang sedang marah atau memiliki pikiran jahat.
The Explanation of Al-Basmalah

that is to say: Bismillaahir Rahmaanir Raheem (In the Name of Allah, the Most Beneficent, the Most Merciful).
Penjelasan Al-Basmalah

yaitu membaca: Bismillaahir Rahmaanir Raheem (Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang).
The Meaning of al-Basmalah
Before doing anything, I begin by naming and remembering Allah Almighty, seeking His help in everything, asking Him alone for support in all of my affairs. Indeed, He is the Lord, the One worshipped, His favors are many and great, His generosity is vast, and His mercy encompasses all creatures.
Arti dari al-Basmalah
Sebelum melakukan apapun, saya mulai dengan menyebut dan mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala, mencari pertolongan-Nya dalam segala hal, meminta dukungan hanya dari-Nya dalam semua urusan saya. Sungguh, Dia adalah Tuhan, yang di sembah, nikmat-Nya banyak dan besar, kemurahan-Nya sangat luas, dan belas kasihan-Nya meliputi seluruh makhluk.
The Exalted Word Allah: The Possessor of divinity and the right to be worshipped over all creatures. It is the Name known and recognized to refer to the Lord, Glorious, and Most High.Nama Allah Yang Mulia: Pemilik keilahian dan hak untuk di sembah oleh semua makhluk. Allah adalah Nama yang di kenal dan diakui untuk merujuk pada Tuhan, Mulia, dan Mahatinggi.
Ar-Rahmaan (The Most Beneficent): This is one of Allah’s Names; it is derived from Ar-Rahmah or mercy, and it signifies its vastness. This name signifies mercy that embraces all of creation, for Allah Almighty creates them and provides for them; that is from the completeness of His favors, which is why it is said, “O Rahmaan over this world.”Ar-Rahmaan (Yang Maha Pemurah): Ini adalah salah satu Nama Allah; berasal dari Ar-Rahmah atau belas kasihan, dan itu menandakan ke-Maha-Besaran-Nya. Nama ini menandakan rahmat yang mencakup semua ciptaan, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan mereka dan menyediakan seluruh kebutuhannya; semua itu adalah murni nikmat-Nya, itulah sebabnya dikatakan, “Wahai Rahmaan atas dunia ini.”
Ar-Raheem (The Most Merciful): This is also one of Allah’s Names, and it too is derived from Ar-Rahmah (mercy), signifying the greatness of His mercy, but this time specifically for the believers in the Hereafter. Allah Almighty says: “And He is Ever Most Merciful to the believers.”[1]
And that is why it is said, “O Raheem of the Hereafter.”
Ar-Rahim (Yang Maha Penyayang): Ini juga salah satu Nama Allah, dan itu juga berasal dari Ar-Rahmah, menandakan kebesaran rahmat-Nya, tapi kali ini khusus untuk mu’min di akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang beriman.” [1]
Dan itulah mengapa dikatakan, “Wahai Rahim pemilik akhirat.”
The Ruling on al-Basmalah
It is legislated for the worshipper, or one asking, to say, “In the Name of Allah, the Most Beneficent, the Most Merciful,” with his recitation of every Surah from the Book of Allah Almighty except for Surat At-Tawbah, in which case it is not recited. In the obligatory Salat, one says it silently, even during the audible prayers. It is Sunnah for the worshipper to say Bismillah when eating and drinking, wearing clothing, entering and exiting the Masjid, sitting on a mount, and for every important matter. Just as it is obligatory for him to say Bismillah and Allahu Akbar when slaughtering (a sheep) or sacrificing a camel.
Hukum al-Basmalah
Diharuskan bagi Muslim, atau orang yang meminta, untuk mengatakan, “Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang,” dengan pembacaan setiap Surat dari Kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali Surat At-Tawbah, yang tidak dibacakan. Dalam shalat wajib, seseorang mengucapkannya secara perlahan, bahkan dalam sholat yang bacaannya dikeraskan. Adalah Sunnah bagi Muslim untuk mengucapkan Bismillah ketika makan dan minum, mengenakan pakaian, masuk dan keluar Masjid, duduk di atas gunung, dan untuk setiap hal penting lainnya. Seperti halnya wajib baginya untuk mengucapkan Bismillah dan Allahu Akbar saat menyembelih (domba) atau mengurbankan unta.
Methodology In Explaining the Selected Surahs

The following shall be the methodology in explaining the short Surahs that were chosen:

* The name of the Surah
* The subject of the Surah
* Its relation to what is before it
* Vocabulary
* To summarize the meaning
* The lessons from the Surah
Metodologi Dalam Menjelaskan Surat-surat Pilihan

Berikut adalah metodologi dalam menjelaskan Surat-surat pendek yang di pilih:


* Nama Surah tersebut
* Subjek Surah
* Hubungannya dengan surat sebelumnya
* Kosakata
* Untuk meringkas artinya
* Pelajaran dari Surah tersebut
Surat Al_Fatihah

1. In the Name of Allah, the Most Beneficent, the Most Merciful.
2. All the praise is due to Allah, the Lord of Al-‘Alamin.
3. The Most Beneficent and the Most Merciful.
4. The Only Owner (and the Only ruling Judge) of the Day of Recompense (i.e. the Day of Resurrection.)
5. You (alone)we worship and You (alone) we ask for help (for each and everything).
6. Guide us to the straight path.
7. The way of those on whom You have bestowed Your Grace, not (the way) of those who earned Your anger nor of those who went astray.
Surat Al_Fatihah


1. Dengan Nama Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
2. Segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam.
3. Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang.
4. Satu-satunya Pemilik (dan Satu-satunya Hakim yang berkuasa) dari Hari Pembalasan (yaitu Hari Kebangkitan.)
5. Hanya kepada-MU kami menyembah dan hanya kepada-MU kami meminta bantuan (untuk segala urusan).
6. Bimbing kami ke jalan yang lurus.
7. Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau berikan Rahmat-Mu, bukan jalan orang-orang yang mendapatkan amarah-Mu maupun mereka yang tersesat.
The Names of This Surah
The Opening Chapter (Fatihatul-Kitab)
The Mother of the Book (Ummul-Kitab)
The Mother of the Qur’an
The Seven OFt-Recited and the Magnificent Qur’an
The Praise (Al-Hamd)), because it begins with the mention of praise.
The Prayer (As-Salat), because the Prophet ShalAllaahu ‘Alayhi wa Sallam mentioned that Allah Almighty said): “I have divided the Salat into two halves between Me and My servant.” (Reported by Muslim)
The Cure (Ash-Shifa)
The Incantation (Ar-Ruqyah)
The Protection Al-Waqiyah
Nama-Nama Surah Ini
Bab Pembukaan (Fatihatul-Kitab)
Ibunya Kitab
Ibunya Alquran (Ummur-Qur’an)
Tujuh ayat yang Sering Di baca dan Qur’an Yang Agung (As-Sab’ul-Mathani wal-Qur’anul-Azim)
Pujian, karena diawali dengan penyebutan pujian.
Shalat, karena Nabi ShalAllaahu ‘Alayhi wa Sallam menyebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala bersabda): “Aku telah membagi shalat menjadi dua bagian antara Aku dan hamba-Ku.” (Diriwayatkan oleh Muslim)
Penyembuh (Ash-Syifa)
Wirid (Ar-Ruqyah)
Perlindungan Al-Waqiyah
The Virtues Of Surat Al-Fatihah

1. Surat Al-Fatihah is the greatest Surah of the Qur’an. The Prophet ShalAllaahu ‘Alayhi wa Sallam said to Abu Sa’id bin Al-Mu’alla: I will teach you the greatest Surah of the Qur’an before you leave the Masjid.
He then said to him: All praise is for Allah, Lord of all that exists.

2. In the story of the scorpion sting, which was recorded by Al-Bukhari, implies that it is a sufficient cure and that it may be used for Ruqyah.

3. To recite this chapter is one of the pillars of prayer: for both the Imam and the one who prays alone; therefore one’s prayer is incomplete without it. As for the one who prays behind the Imam, reciting it is obligatory. Abu Hurairah narrated that the Prophet ShalAllaahu ‘Alayhi wa Sallam said: Whoever performs Salat, without reciting Ummul-Qur’an in it, then it is insufficient (he said it three times:), it is not complete. (It was recorded by Muslim)
Keutamaan Surat Al-Fatihah

1. Surat Al-Fatihah adalah Surat terbesar dari Alquran. Nabi ShalAllaahu ‘Alayhi wa Sallam berkata kepada Abu Sa’id bin Al-Mu’alla: Aku akan mengajarimu Surah terbesar dari Alquran sebelum kau meninggalkan Masjid.
Dia kemudian berkata kepadanya: Segala puji bagi Allah, Tuhan atas seluruh makhluk.


2. Dalam cerita sengatan kalajengking yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari mengandung makna bahwa Surat Al-Fatihah adalah obat yang cukup untuk menyembuhkan dan dapat digunakan untuk Ruqyah.

3. Membaca surah ini adalah salah satu rukun sholat: baik untuk Imam dan orang yang shalat sendiri; oleh karena itu, shalat seseorang tidak lengkap tanpanya. Adapun orang yang shalat di belakang Imam, mengucapnya adalah wajib. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi ShalAllaahu ‘Alayhi wa Sallam bersabda: Barangsiapa melaksanakan shalat, tanpa membacakan Ummul-Qur’an didalamnya, maka tidak cukup (beliau mengucapkannya tiga kali), belum lengkap. (Itu diriwayatkan oleh Muslim)
The Meaning Of Its Words

Al-Hamdulillah: Al-Hamd is praising Allah with His perfect Attributes, loving Him, glorifying Him, and exalting Him.

Rabbil-Aalameen: Ar-Rabb is the worshipped King, the Disposer of affairs. He is the Educator of all the worlds with all types of education. He is the One Who created them, provides for them, and blesses them with blessings that are apparent as well as hidden.








Al-Aalameen: All that exists other than Allah almighty.

Ar-Rahmaanir-Raheem: Two of Allah’s Names that indicate that He is the Possessor of the vast magnificent mercy that reaches everything, and embraces every creature. He is Ar-Rahmaan, with mercy that is for all of His creation in this world, Ar-Raheem, with a special mercy for the believers. Allah Almighty says: And He is Ever Most Merciful to the believers. [1]
And He said:
Say: “Invoke Allah or invoke the Most Beneficent (Allah), by whatever name you invoke Him (it is the same), for to Him belong the Best Names.” [2]






Maaliki Yawmid-Deen: The One Who alone has a control on the Day of Recompense and Reward, the Day when everyone is rewarded for his deeds – if good, then the recompense is good, and if evil, then the recompense is the same, except for him whom Allah Almighty pardons. He said:
And what will make you know what the Day of Recompense is? Again, what will make you know what the Day of Recompense is? (It will be) the day when no person shall have power (to do) anything for another, and the Decision, that Day, will be (wholly) with Allah.

Al-Maalik: He is the One Who has attributed the most perfect attributes of majesty by which the title King is deserved. It indicates that He orders and forbids, rewards, and punishes, dispensing with all matters in the higher and lower worlds with complete control, with the rulings of Preordainment, of legislation, and of reward. This is why He mentioned His Sovereignty over the Day of Recompense, which is the Day of Resurrection, for on that Day, Allah Almighty will recompense the creatures according to their deeds and Will give them a just recompense.

Iyyaka Na’budu wa Iyyaaka Nasta’een:
“You alone we worship, and You alone we ask for help. We worship none other than You, we seek help from none other than You when asking, and we rely upon none other than You.” This phrase signifies a covenant between the worshipper and his Lord – that the worshipper will worship Him alone and seek help from Him alone.

Al-Ibaadah (worship) is a comprehensive term for all that Allah loves and is please with; it includes sayings and deeds that are both apparent and hidden.

Ihdinas-Siraatal-Mustaqeem: Guide us, lead us, and keep us on the straight path, the path in which there is no crookedness, that is knowledge and application of the truth, both of which lead to Allah, His Paradise, and His Generosity.

Siraatal+Latheena An’amta ‘Alaihim: i.e., that faith and righteousness. These are the Prophets, the truthful believers, the martyrs, and the righteous.

Ghairil-Maghdhoobi ‘Alaihim waladh-Dhaaleen: They are the ones who recognized the truth but abandoned it: the Jews and those like them.
Following other than the path of the misguided ones, refers to those who have strayed from the truth, such as the Christians and those who are like them that have forsaken knowledge: they wander in their misguidance without being guided to the truth.
Arti dari Kata-katanya







Al-Hamdulillah: Al-Hamd memuji Allah dengan sifat-Nya yang sempurna, mencintai-Nya, memuliakan-Nya, dan meninggikan-Nya.

Rabbil-Aalamin: Ar-Rabb adalah Raja yang di sembah, Yang Maha Mengurus segala urusan. Dialah yang mengajarkan di seluruh dunia dengan semua jenis pengajaran. Dialah yang menciptakan mereka, menyediakan segala kebutuhannya, dan memberkahi mereka dengan berkah yang nampak dan yang tersembunyi.

Al-Aalamin: Semua makhluk selain Allah Yang Maha Kuasa.

Ar-Rahmaanir-Rahim: Dua Nama Allah yang menunjukkan bahwa Dia adalah Pemilik dari Pengampunan agung yang luar biasa untuk seluruh makhluk, dan mencintai setiap makhluk. Dia adalah Ar-Rahmaan, dengan rahmat untuk semua ciptaan-Nya di dunia ini, Ar-Rahim, dengan rahmat khusus untuk orang-orang beriman. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang beriman. [1]
Dan dia berkata:
Katakan: “Sebutlah Allah atau serulah Yang Maha Pemurah (Allah), dengan nama apapun Anda memanggil-Nya (itu sama), karena semua nama-nama terbaik adalah milik-Nya.” [2]

Maaliki Yawmid-Dien: Satu-satunya Pemilik kendali pada Hari Pembalasan dan Pahala, Hari ketika setiap orang di beri pahala atas perbuatannya – jika baik, maka balasannya baik, dan jika buruk, maka pembalasannya sama, kecuali dia yang diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia berkata:
Dan apa yang akan membuatmu tahu apa itu Hari Pembalasan? Sekali lagi, apa yang akan membuatmu tahu apa itu Hari Pembalasan? (Ini akan menjadi) hari di mana tidak ada orang yang memiliki kekuatan (untuk melakukan) apa pun untuk orang lain, dan Keputusan, Hari itu, akan (seluruhnya) di sisi Allah.

Al-Maalik: Dialah Yang telah mengaitkan atribut keagungan paling sempurna yang mana gelar Raja itu memang hanyalah Milik-Nya. Ini menunjukkan bahwa Dia memerintahkan dan melarang, memberi penghargaan, dan menghukum, mengurus seluruh urusan di alam yang lebih tinggi dan lebih rendah dengan kendali penuh, dengan keputusan takdir, hukum-Nya, dan balasan (pahala). Inilah sebabnya mengapa Dia menyebutkan Kedaulatan-Nya atas Hari Pembalasan, yang merupakan Hari Kebangkitan, karena pada Hari itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberi balasan kepada makhluk sesuai dengan perbuatan mereka dan Akan memberi mereka balasan yang adil.

Iyyaka Na’budu wa Iyyaaka Nasta’in:
“Hanya kepada-Mu lah kami menyembah, dan hanya kepada-Mu lah kami meminta pertolongan. Tidak ada yang kami sembah selain Engkau, hanya kepada-MU kami memohon bantuan, dan Engkau adalah tempat kami bergantung.” Frasa ini menandakan perjanjian antara Muslim dan Tuhannya – bahwa Muslim akan menyembah Allah semata dan mencari bantuan dari Allah saja.

Al-Ibaadah (ibadah) adalah istilah komprehensif untuk semua yang Allah cintai dan menyenangkan-Nya; mencakup perkataan dan perbuatan yang terlihat dan tersembunyi.

Ihdinas-Siraatal-Mustaqim: Membimbing kami, memimpin kami, dan menjaga kami di jalan yang lurus, jalan yang tidak ada kebengkokan, yaitu ilmu dan penerapan kebenaran, yang keduanya mengarah kepada Allah, Surga-Nya, dan Kemurahan-Nya.

Siraatal + Ladzina An’amta ‘Alaihim: yaitu iman dan kebenaran. Ini adalah para Nabi, Mu’min yang sebenarnya, para syuhada, dan orang-orang yang taat.

Ghairil-Maghdhoobi ‘Alaihim waladh-Dhaaleen: Mereka adalah orang-orang yang mengakui kebenaran tetapi meninggalkannya: orang Yahudi dan orang-orang seperti mereka.
Mengikuti selain dari jalan orang yang tersesat, mengacu pada mereka yang telah menyimpang dari kebenaran, seperti orang Kristen dan orang-orang seperti mereka yang telah meninggalkan ilmu dan kebenaran: mereka makin jauh dalam kesesatan mereka tanpa ada bimbingan kepada kebenaran.
Both in and outside of the prayer, when you finish reciting Surah, it is recommended for you to say, “Aameen,” which means: “O Allah, answer us.” the Prophet ShalAllaahu ‘Alayhi wa Sallam would say, “Aameen,” after reciting this Surah, and he ordered us to do so as well. It is confirmed from the Prophet ShalAllaahu ‘Alayhi wa Sallam that Surat Al-Fatihah is the greatest chapter of the Qur’an and that there is no prayer for the one who doesn’t recite it.Baik di dalam maupun di luar shalat, ketika Anda selesai membaca Surah, disarankan untuk mengatakan, “Aameen,” yang artinya: “Ya Allah, kabulkanlah permohonan kami.” Nabi ShalAllaahu ‘Alayhi wa Sallam akan berkata, “Aameen,” setelah membaca Surah ini, dan Beliau memerintahkan kita untuk melakukannya juga. Ditegaskan dari Nabi ShalAllaahu ‘Alayhi wa Sallam bahwa Surat Al-Fatihah adalah bagian terbesar dari Al-Qur’an dan tidak ada shalat untuk orang yang tidak membacanya.
Some Benefits That Can Be Derived From Surat Al-FatihahBeberapa Manfaat Yang Dapat Diperoleh Dari Surat Al-Fatihah
1. The recitation of Al-Fatihah is one of the pillars of prayer, it is obligatory according to the correct opinion, in both the quiet and audible prayers.1. Pembacaan Al-Fatihah merupakan salah satu rukun shalat, wajib menurut pendapat yang benar, baik dalam shalat yang di baca pelan atau dikeraskan.
2. This chapter embraces those principles that necessitate faith in Allah’s perfect Names and exalted Attributes, principles that the Imams and the early generations of Islam upheld. They would affirm for Allah a quality that He affirmed for Himself or that His Messenger ShalAllaahu ‘Alayhi wa Sallam affirmed – without distorting the meaning of that Name, without likening them to those of His creation, and without trying to explain the reality of those qualities. They believed, for example, that Allah is Rahman and Raheem, the Possessor of mercy that these Names describe; that He is the All-Knowing, the Possessor of knowledge, Who knows all things; the He is All-Capable, the Possessor of ability Who is able to do all things.2. Surat ini memuat prinsip-prinsip yang mensyaratkan iman pada Nama-nama Allah yang sempurna dan Sifat-sifat luhur, prinsip-prinsip yang di junjung oleh para Imam dan generasi awal Islam. Mereka akan menegaskan untuk Allah kualitas yang Dia tegaskan untuk diri-Nya sendiri atau yang ditegaskan oleh Rasul-Nya Shal Allaahu ‘Alayhi wa Sallam – tanpa mengubah makna Nama itu, tanpa menyamakannya dengan makhluk ciptaan-Nya, dan tanpa mencoba menjelaskan realitas kualitas-kualitas itu. . Mereka percaya, bahwa Allah adalah Rahman dan Rahim, Pemilik rahmat yang dijelaskan oleh Nama-nama ini; bahwa Dialah Yang Maha Mengetahui, Pemilik ilmu, Yang mengetahui segala sesuatu; bahwa Allah Maha Mampu, Pemilik kemampuan Yang mampu melakukan segala sesuatu.
3. It includes the meaning of worship, which is comprehensive. It signifies all that Allah loves and is pleased with, from sayings and deeds, both apparent and hidden.3. Itu termasuk makna ibadah yang total. Itu menandakan semua yang dicintai dan disenangi Allah, dari ucapan dan perbuatan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.
4. The Muslim must remember the Day of Recompense, the Day of accountability and reward. When one remembers that Day, one will be better able to perform the obligatory deeds and avoid unlawful deeds.4. Muslim harus mengingat Hari Pembalasan, Hari pertanggungjawaban dan pembalasan. Jika kita bisa mengingat hari itu, Muslim akan lebih giat melakukan amalan wajib dan menghindari perbuatan dosa.
5. When Shirk is mixed with worship, the act of worship becomes nullified.5. Ketika mencapur-adukkan Syirik dengan ibadah, amal ibadah menjadi batal.
6. It includes the three categories of Tawhid:
a. Tawhid Ar-Rububiyyah (Lordship), which is taken from Allah’s saying, “the Lord of all that exists.”
b. Tawhid Al-Ilahiyyah, which means to single out Allah for worship; and it is inferred from the word “Allah” and from, “You alone do we worship and from You alone do we ask for help.”
c. Tawhid Al-Asma was-Sifat, which means to affirm those perfect Qualities of Allah that He affirmed for Himself, or that the Prophet ShalAllaahu ‘Alayhi wa Sallam affirmed for Him. And this is indicated by the statement, “All praise is for Allah.”
6. Ada tiga kategori Tauhid:
a. Tauhid Ar-Rububiyyah (Ketuhanan), yang di ambil dari firman Allah, “Tuhan dari semua makhluk.”
b. Tauhid Al-Ilahiyyah, yang berarti mengesakan Allah dalam beribadah; dan itu disimpulkan dari kata “Allah” dan dari, “Hanya Engkau yang kami sembah dan hanya dari Engkau saja kami memohonkan pertolongan.”
c. Tauhid Al-Asma was-Sifat, berarti menegaskan Kualitas-kualitas sempurna dari Allah yang Dia tegaskan untuk diri-Nya sendiri, atau yang ditegaskan oleh Nabi Shal Allaahu ‘Alayhi wa Sallam bagi-Nya. Dan ini ditunjukkan dengan pernyataan, “Segala puji bagi Allah.”
7. “Guide us to the straight path,” affirms Prophethood.7. “Bimbing kami ke jalan yang lurus,” tegas para Nabi.
8. “Owner of the Day of Recompense,” affirms that we sill be punished or rewarded according to our deeds.8. “Pemilik Hari Pembalasan,” menegaskan bahwa kita akan di hukum atau di beri balasan sesuai dengan perbuatan.
9. And “Guide us to the straight path,” includes an affirmation of the Divine Will and a refutation of the people of innovation and misguidance, since it is a recognition of the truth and acting upon it.9. Dan “Bimbing kami ke jalan yang lurus,” termasuk penegasan Kehendak Allah dan penolakan dari orang-orang yang melakukan bid’ah dan kesesatan, karena ini adalah pengakuan atas kebenaran dan bertindak berdasarkan itu.
10. “You (alone) we worship and (from) You (alone) we ask for help,” clearly shows that worship must be dedicated purely and sincerely for Allah alone. [1]”10. “Hanya Engkau yang kami sembah dan hanya kepada Engkau kami mohonkan pertolongan,” jelas menunjukkan bahwa ibadah harus dipersembahkan secara murni dan ikhlas untuk Allah saja. [1] “
[1] This was taken from Al-Ahkamul-Mulimmah Alad-Durusul-Muhimmah by ‘Abdul-‘Aziz Al-Fayiz.[1] Ini diambil dari Al-Ahkamul-Mulimmah Alad-Durusul-Muhimmah oleh ‘Abdul-‘Aziz Al-Fayiz.
IHHC – Indonesia Hyperhidrosis Center

Published by Nazhan Kamal

Ex-vampire who travel Indonesia for coffee, sea breeze, and friendship. Owner/tutor of engRIsh, founder of Indonesia Hyperhidrosis Center, ex-hotelier in UK-USA-MV.

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: