Translation EN-ID Shaykh Uthaymeen’s The Islamic Awakening

image of book by shaykh ibn uthaymeen's The Islamic Awakening translation by NazKamal Indonesia whatsapp 6285157055570

Bismillah. As salaamu ‘alaykum wa rahmatullaah wa barakaatuh. Below is the translation of the first chapter of Shaykh Ibn Uthaymeen’s book “The Islamic Awakening”.

“The First Principle: Adhering to the Qur’an and Sunnah
My brothers, the Islamic awakening of today has pervaded all Islamic countries, and all praise is for Allah. It has to be understood, however, that this awakening must be established upon a solid foundation – in terms of Allah’s Book and the Sunnah of Allah’s Messenger ShalAllaahu ‘Alayhi wa Sallam. If it is not established upon these primary sources, then it will be a reckless and unstable awakening, which will perhaps destroy more than it will build. But if it is built upon the principles and teachings of Allah’s Book and the authentic sunnah of Allah’s Messenger ShalAllaahu ‘Alayhi wa Sallam, then it will have a very positive and effective influence on the Muslim Nation and on other Nations as well.”
“Prinsip Pertama: Mematuhi Alquran dan Sunnah
Saudaraku, kebangkitan Islam hari ini telah mempengaruhi semua negara Islam, dan segala puji hanya bagi Allah. Namun, harus dipahami bahwa kebangkitan ini harus di bangun di atas fondasi yang kokoh – dalam kaitannya dengan Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah Shalallaahu ‘Alayhi wa Sallam. Jika tidak di bangun berdasarkan sumber-sumber utama ini, maka akan menjadi kebangkitan yang asal jadi dan tidak stabil, yang mungkin akan lebih menghancurkan daripada membangunnya. Tetapi jika di bangun di atas prinsip dan ajaran Kitab Allah dan sunnah otentik Rasulullah Shalallaahu ‘Alayhi wa Sallam, maka akan memiliki pengaruh yang sangat positif dan efektif pada Bangsa Muslim dan Bangsa lainnya.”
“Perhaps all of us know the long story of Abu Sufyan’s visit to Sham (today Sham consists of Syria and surrounding areas), where he met with its ruler, Haraql, the emperor of Rome. At the time, Abu Sufyan was still a disbeliever. During the course of their meeting, Abu Sufyan related to the emperor matters pertaining to the Prophet’s worship of Allah, to his rejection of idols, to his good manners, to his truthfulness, to his trustworthiness, to his good dealings, and to other matters that pertain to the Shari’ah, he came with. Haraql (the emperor) said to Abu Sufyan, “”If what you say is the truth, then he will rule over what is underneath these two feet of mine.”Mungkin kita semua tahu cerita panjang tentang kunjungan Abu Sufyan ke Syam (sekarang Syam terdiri dari Suriah dan sekitarnya), di mana dia bertemu dengan penguasanya, Haraql, kaisar Romawi. Pada saat itu, Abu Sufyan masih seorang kafir. Selama pertemuan mereka, Abu Sufyan menceritakan kepada kaisar hal-hal yang berkaitan dengan penyembahan Nabi kepada Allah, penolakannya terhadap berhala, dengan sopan santun, kejujuran, kepercayaan, kebaikan, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan Syari’ah yang dia bawa. Haraql (kaisar) berkata kepada Abu Sufyan, “Jika apa yang kamu katakan adalah kebenaran, maka dia akan menguasai sampai Syam.”
Who would imagine that, at the time, even the Arabs were not under his rule; in fact, the Prophet ShalAllaahu ‘Alayhi wa Sallam had not even conquered Makkah; he was still considered to be an emigrant of Makkah? So who would imagine that a king such as Haraql, who ruled over so many people, would say such a statement: “If what you say is the truth, then he will rule over what is underneath these two feet of mine?” Did what Haraql predict actually occur or not? Did the Prophet ShalAllaahu ‘Alayhi wa Sallam rule over what was underneath the feet of Haraql, i.e., Sham at the time, Rome ruled over those lands? Isn’t it true that the Prophet ShalAllaahu ‘Alayhi wa Sallam died before the Muslims conquered Sham?Siapa yang mengira bahwa, pada saat itu, bahkan orang-orang Arab pun tidak berada di bawah kekuasaannya; sebenarnya, Nabi ShalAllaahu ‘Alayhi wa Sallam bahkan belum menaklukkan Mekah; dia masih di anggap emigran Mekkah? Jadi siapa yang mengira bahwa seorang raja seperti Haraql, yang memerintah begitu banyak orang, akan mengatakan pernyataan seperti itu: “Jika apa yang kamu katakan itu benar, maka dia akan menguasai Syam?” Apakah prediksi Haraql benar-benar terjadi atau tidak? Apakah Nabi ShalAllaahu ‘Alayhi wa Sallam terbukti memerintah Syam, yang dikuasai Roma? Bukankah benar bahwa Nabi ShalAllaahu ‘Alayhi wa Sallam wafat sebelum umat Islam menaklukkan Syam?
The Prophet ShalAllaahu ‘Alayhi wa Sallam ruled over what was underneath the feet of Haraql with his da’wah (calling and message) and not with his person. The da’wah of The Prophet ShalAllaahu ‘Alayhi wa Sallam came upon this earth and swept away idols and shirk (the association of partners with Allah in worship). So when the rightly-guided Khalifahs ruled over Sham after the Prophet ShalAllaahu ‘Alayhi wa Sallam death, they did so by hid da’wah and Shari’ah (Laws of Islam).Nabi ShalAllaahu ‘Alayhi wa Sallam menguasai Syam dengan dakwahnya (panggilan dan pesan) dan bukan dengan raganya. Dakwah Nabi Shalallaahu ‘Alayhi wa Sallam datang ke bumi ini menghancurkan berhala dan syirik (menduakan Allah dalam ibadah). Jadi ketika Khalifah yang benar memerintah Syam setelah kematian Nabi ShalAllaahu ‘Alayhi wa Sallam, mereka melakukannya dengan dakwah dan Syari’ah (Hukum Islam).
“What we are saying is that, if the rulers of the Muslim Nation and those under them were to truly return to the Religion of Allah, taking Muslims as their supporters, friends, and helpers, and taking the disbelievers as their enemies, then they would rule over the Eastern and Western part of the earth. They would rule over the earth not because they supported countries or personalities, they would have established the Religion of Allah ‘Azza wa Jalla (To Him belongs Might and Majesty). And Allah ‘Azza wa Jalla guaranteed to make His Religion victorious over all other Religions. Allah said in Qur’an 61:9: An obvious concomitant of this Religion being victorious is that those who adhere to it will be victorious as well.
Maksudnya adalah, jika para penguasa Bangsa Muslim dan orang-orang di bawah mereka benar-benar kembali ke Agama Allah, menjadikan Muslim sebagai pendukung, teman, dan penolong mereka, dan menganggap orang-orang kafir sebagai musuh mereka, maka mereka akan mampu menguasai Bumi bagian Timur dan Barat. Mereka akan memerintah bumi bukan karena negara pendukung atau kepribadian, mereka akan mendirikan Agama Allah ‘Azza wa Jalla (Milik Allah lah Kekuasaan dan kemuliaan). Dan Allah ‘Azza wa Jalla menjamin Agama-Nya menang atas lainnya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an 61: 9: Hal yang jelas sejalan dengan kemenangan Agama ini adalah bahwa mereka yang menganutnya akan menang juga.
My brothers, if this consciousness that has pervaded the ranks of the Muslim youth today is not based on Allah’s Book and the Sunnah of Allah’s Messenger ShalAllaahu ‘Alayhi wa Sallam, then it will be reckless and misguided, and it is feared that it will destroy more than it will build.Saudaraku, jika kesadaran yang telah mempengaruhi seluruh pemuda Muslim saat ini tidak berdasarkan Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alayhi wa Sallam, maka itu adalah nekat dan sesat, dan dikhawatirkan akan lebih menghancurkan daripada membangun.
But what if it is said, how can we return to Allah’s Book and the Sunnah of Allah’s Messenger ShalAllaahu ‘Alayhi wa Sallam?Tetapi bagaimana jika ditanyakan, bagaimana caranya kembali ke Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah SallAllaahu ‘Alayhi wa Sallam?
“1. Returning to Allah’s Book
Muslims cannot actualize adherence to Allah’s Book unless they strive, first to contemplate it and then to apply its teachings, because Allah ‘Azza wa Jalla says in Qur’an 38:29: (This is) a Book (the Qur’an) which We have sent down to you, full of blessings that they may ponder over its Verses, and that men of understanding may remember.”
“1. Kembali ke Kitab Allah
Umat Islam tidak dapat mengaktualisasikan ketaatan pada Kitab Allah kecuali mereka berusaha, pertama merenungkannya dan kemudian menerapkan ajarannya, karena Allah ‘Azza wa Jalla berkata dalam Al Qur’an 38:29: (Ini adalah) sebuah Kitab (Alquran) yang Kami kirimkan kepada manusia, penuh dengan berkah agar mereka dapat merenungkan Ayat-ayatnya, dan agar orang yang berakal dapat mengingatnya.”
“Pondering over the Qur’an’s verses leads to understanding its meanings.
Al Tadhakkur (“”may remember””) here means applying what is in the Qur’an.
The Qur’an was revealed for the above-mentioned meaning and wisdom. If that was why it was revealed, then let us return to the Qur’an, ponder over its verses, and then apply its teachings. By Allah, it is in taking these steps that happiness in this world and the Hereafter is achieved. Allah ‘Azza wa Jalla says in Qur’an 20: 123-124) “”And whoever follows My Guidance shall neither go astray nor fall into distress and misery. But whosoever turns away from My Reminder (i.e. this Qur’an) verily, for him is a life of hardship, and We shall raise him up blind on the Day of Resurrection.”
“Merenungkan ayat-ayat Qur’an menuntun kita kepada pemahaman maknanya.
Al Tadhakkur (“”semoga ingat””) di sini berarti menerapkan apa yang ada di dalam Al Qur’an.
Alquran diturunkan untuk arti dan kebijaksanaan yang disebutkan di atas. Jika itu sebabnya diturunkan, maka mari kita kembali ke Alquran, merenungkan ayat-ayatnya, dan kemudian menerapkan ajarannya. Demi Allah, dengan mengambil langkah-langkah inilah kebahagiaan di dunia dan akhirat tercapai. Allah ‘Azza wa Jalla bersabda dalam Al Qur’an 20: 123-124) “”Dan siapa pun yang mengikuti Pedoman-Ku tidak akan tersesat atau jatuh ke dalam kesusahan dan kesengsaraan. Tetapi siapa pun yang berpaling dari Pengingat-Ku (yaitu Al-Qur’an ini) sesungguhnya, untuknya kehidupan yang sulit, dan Kami akan bangkitkan dia dalam keadaan buta pada Hari Kebangkitan.
Hence, you will not find anyone who is more serene in his mind and more tranquil in his heart than the believer. Read, if you will, the saying of Allah ‘Azza wa Jalla in Qur’an 16:97 “whoever works righteousness, whether male or female, while he (or she) is a true believer (of Islamic Monotheism) verily, to him We will give a good life (in this world with respect, contentment, and lawful provision), and We shall pay them certainly a reward in proportion to the best of what they used to do (i.e. paradise in the Hereafter).”Oleh karena itu, Anda tidak akan menemukan yang lebih tenang dalam pikirannya dan lebih tenang dalam hatinya daripada orang yang beriman. Bacalah, jika Anda mau, perkataan Allah ‘Azza wa Jalla dalam Al-Qur’an 16:97 “Barangsiapa mengerjakan kebenaran, baik laki-laki atau perempuan, sedangkan dia (atau dia) adalah mukmin sejati (Monoteisme Islam) sesungguhnya, Kami akan berikan kehidupan yang baik (di dunia ini dengan rasa hormat, kepuasan, dan rezeki yang baik), dan Kami pasti akan membayar mereka pahala terbaik dari apa yang biasa mereka lakukan (yaitu surga di akhirat). “
What is the “good life”? Is it abundance of wealth? Is it having many children? Or is it having security in one’s life?Apakah yang di maksud dengan “hidup yang baik”? Apakah kekayaan melimpah? Memiliki banyak anak? Atau memiliki jaminan keamanan dalam hidup seseorang?
To be sure, the “good life” is having a cheerful, peaceful, and contented heart, even if one is in the most difficult of circumstances. The Prophet ShalAllaahu ‘Alayhi wa Sallam said: “How wonderful is the affair of the believer, for the affair of the believer is good in its entirety, and that is [a quality] that is for no one save the believer. If he is afflicted with hardship, he is patient, and that is better for him. And if something good befalls him, he is thankful [to Allah], and that is better for him.”Yang pasti, “kehidupan yang baik” adalah memiliki hati yang ceria, damai, dan merasa cukup, bahkan jika seseorang berada dalam keadaan yang paling sulit. Nabi Shalallaahu ‘Alayhi wa Sallam berkata: “Betapa indahnya urusan orang beriman, karena urusan orang beriman itu baik secara keseluruhan, dan itu adalah [kualitas] yang tidak ada seorang pun kecuali orang beriman. Jika dia sedang menderita kesulitan, dia bersabar, dan itu lebih baik baginya. Dan jika sesuatu yang baik menimpanya, dia bersyukur [kepada Allah], dan itu lebih baik untuknya. “
When a disbeliever is afflicted with hardship, is he truly patient? No, rather, he becomes sad and the world becomes constricted for him, and perhaps, he may even end up taking his own life. But the believer is patient and finds that the joy of patience results in tranquility and contentment. That is why his life is a good life. Hence, the saying Allah “We will give [them] a good life” is referring to life in one’s heart and self.Ketika seorang kafir menderita kesusahan, apakah dia benar-benar sabar? Tidak, sebaliknya, dia menjadi sedih dan dunia menjadi terbatas untuknya, dan mungkin, dia akan membunuh dirinya sendiri. Tetapi mu’min itu sabar dan menemukan bahwa kegembiraan dalam kesabaran menghasilkan ketenangan dan kecukupan. Itulah mengapa hidupnya adalah hidup yang baik. Karenanya, ucapan Allah “Kami akan memberi [mereka] kehidupan yang baik” mengacu pada kehidupan di dalam hati dan diri seseorang.
Historians mention an interesting incident in the life of al-Hafiz Ibn Hajr – may Allah have mercy on him. He was the Judge of Egypt during his era, and when he would go to his place of work, he would arrive in a carriage that was drawn by horses or mules in a procession. One day, he passed by a Jew who was a seller of oil, and it was common for a seller of oil to wear dirty garments. The Jew halted the process and said to Ibn Hajr (may Allah have mercy on him) “Indeed your Prophet says: ‘The world is a prison for the believer and paradise for the disbeliever.’ Yet you are the judge of judges in Egypt, and you are in this procession, in ease and comfort. and here I am, in this state of punishment and misery!”Sejarawan menyebutkan kejadian menarik dalam kehidupan al-Hafiz Ibn Hajr – semoga Allah mengampuni Beliau. Dia adalah Hakim di Mesir pada zamannya, dan untuk pergi ke tempat kerjanya, dia akan menaiki sebuah kereta yang di tarik oleh kuda atau keledai. Suatu hari, dia melewati seorang Yahudi seorang penjual minyak, dan penjual minyak biasanya memakai pakaian yang kotor. Orang Yahudi itu menghentikan keretanya dan berkata kepada Ibn Hajr (semoga Allah mengampuninya) “Nabimu pernah berkata: ‘Dunia adalah penjara bagi mu’min dan surga bagi orang kafir.’ Namun Anda adalah pemimpin hakim di Mesir, dan Anda dalam kereta ini, dalam kemudahan dan kenyamanan. Dan disinilah saya, dalam keadaan kerja keras dan penderitaan! “
Al-Hafiz Ibn Hajr (may Allah have mercy on him) said, “If the situation I am in is really a state of comfort and ease, then it is a state that is a prison when compared to the ease (and comfort) of Paradise. and the misery you are in is Paradise when compared to the punishment of the Hellfire.” The Jew said. “I bear witness that none has the right to be worshipped but Allah, and I bear witness that Muhammad is the Messenger of Allah Subhanahu wa Ta’ala.” And thus he accepted Islam.Al-Hafiz Ibn Hajr (semoga Allah mengampuni Beliau) bersabda, “Jika situasi yang saya hadapi benar-benar dalam keadaan nyaman dan santai, maka itu adalah keadaan penjara jika dibandingkan dengan kemudahan (dan kenyamanan) dari Surga, dan penderitaanmu adalah Surga jika dibandingkan dengan hukuman Api Neraka. ” Kata orang Yahudi itu, “Saya bersaksi bahwa tidak ada yang berhak di sembah selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah Utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Dan dengan demikian dia menerima Islam.
So no matter what the situation, the believer is in a good state, for he gains profit in this world and in the Hereafter. On the other hand, the state of the disbeliever is truly evil, for he has lost out on all good in this world and in the Hereafter (i.e., even if he is prosperous in the material sense, he will not achieve the contentment and tranquility of the believer in this world; and as to the Hereafter, his eternal abode is the Hellfire).Jadi tidak peduli apa situasinya, mu’min selalu dalam keadaan baik, karena dia mendapatkan keuntungan di dunia dan di akhirat. Di sisi lain, keadaan orang kafir benar-benar merugi, karena dia telah kehilangan semua kebaikan di dunia dan di akhirat (yaitu, bahkan jika dia makmur secara materi, dia tidak akan mencapai kepuasan dan ketenangan yang di miliki mu’min di dunia ini, dan untuk akhirat, tempat tinggalnya yang kekal adalah Api Neraka).
Allah said: by al Asr (the time). Verily! Man is in loss, Except those who believe and do righteous good deeds, and reocmmend one another to the truth, and recommend one another to patience (Qur’an 103:1-3)Allah berfirman dalam Qur’an 103: 1-3, “Demi masa, sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”
The disbelievers have forsaken Allah’s Religion and have lost themselves in their lusts, desires, and excesses. Even if one of them builds castles and is very affluent in the world, in reality he is in hell. some of our pious predecessors have said, “Were the kings and the sons of kings to know what [the state in which] we are in, they would fight us over it with swords.”Orang-orang kafir telah meninggalkan Agama Allah dan telah kehilangan diri mereka dalam nafsu, keinginan, dan semua hal yang berlebihan. Bahkan jika salah satu dari mereka membangun istana dan sangat makmur di dunia, pada kenyataannya dia ada di neraka. Beberapa pendahulu kita yang saleh pernah berkata, “Jika para raja dan putra raja mengetahui di mana [keadaan] kita saat ini, mereka akan memperebutkan kita dengan pedang.”
The believers find joy and delight in invoking Allah Subhanahu wa Ta’ala and remembering Him, and they are always content with Allah’s Decree and Divine Preordainment. If they are afflicted with hardship, they are patient. And if some blessing befalls them, they are thankful. Hence, they are in a state of delight, as opposed to worldly people, whom Allah ‘Azza wa Jalla described with the following: If they are given part thereof, they are pleased. but if they are not given thereof, behold! They are enraged! (Qur’an 9:58)Orang-orang beriman menemukan kegembiraan dan kebahagiaan dalam memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengingat-Nya, dan mereka selalu puas dengan Keputusan dan Ketetapan Allah . Jika mereka menderita kesusahan, mereka sabar. Dan jika mereka diberikan kesenangan, mereka bersyukur. Oleh karena itu, mereka berada dalam keadaan bahagia, berlawanan dengan orang-orang pencinta hal duniawi, yang dijelaskan oleh Allah ‘Azza wa Jalla sebagai berikut: Jika mereka di beri bagian, mereka senang. tetapi jika mereka tidak mendapat bagian, lihatlah! Mereka sangat marah! (Qur’an 9:58)
My brothers, Allah’s Book is in our hands for us to return to it, to ponder over its meanings, and then to apply its teachings.Saudaraku, Kitab Allah ada di tangan untuk kita kembali ke sana, untuk merenungkan maknanya, dan kemudian menerapkan ajarannya.
2. Returning to the sunnah of the Prophet ShalAllaahu ‘Alayhi wa Sallam

The sunnah of the Messenger of Allah ShalAllaahu ‘Alayhi wa Sallam is with us, well established and preserved – and all praise is for Allah. The people of knowledge have compliled the authentic sunnah, and they have pointed out those narrations that are fabricated. So, the Sunnah remains clear and preserved – and all praise is for Allah. any person can get to authentic ahadith, either by referring to books if he is able to or by asking the people of knowledge.”
2. Kembali ke sunnah Nabi ShalAllaahu ‘Alayhi wa Sallam

Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alayhi wa Sallam ada bersama kita, aman dan terpelihara – dan semua puji bagi Allah. Para ahli telah menyusun sunnah yang otentik, dan mereka telah menunjukkan narasi-narasi yang dibuat-buat. Jadi, Sunnah tetap jelas dan terpelihara – dan segala puji bagi Allah. setiap orang bisa mendapatkan hadits otentik, baik dengan mengacu pada buku jika dia mampu atau dengan bertanya kepada orang-orang yang berpengetahuan.
What if one were to say, “How can we bring harmony between what you said, in terms of returning to Allah’s Book and the Sunnah of Allah’s Messenger ShalAllaahu ‘Alayhi wa Sallam, and between what we see from some people who follow books that represent the various schools of jurisprudence? Such a person says, “My Madh-hab (school of jurisprudence) is such and such.”, he will say, ‘I am of the Hanafi Madh-hab, or ‘I am of the Maliki Madh-hab,,’ or, “I am of the Shafi’i Madh-hab,’ or, ‘I am of the Hanbali Madh-hab,’ or something similar to that.”Bagaimana jika seseorang berkata, “Bagaimana kami bisa membawa harmoni antara apa yang Anda katakan, dalam hal kembali ke Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alayhi wa Sallam, dan antara apa yang kami lihat dari beberapa orang yang mengikuti kitab yang mewakili berbagai mazhab? Orang seperti itu berkata, “Mazhab ini dan itu”, dia akan berkata, ‘Saya dari mazhab Hanafi, atau ‘Saya dari mazhab Maliki’ atau, ‘Saya dari mazhab Syafi’i,’ atau, ‘Saya dari mazhab Hanbali,’ atau sesuatu yang mirip dengan itu.”
“The answer: One should respond to such a person with, “”We all say, ‘I bear witness that none has the right to be worshipped but Allah, and I bear witness that Muhammad is the Messenger of Allah.””
What is the Meaning of the Testimony that Muhammad is the Messenger of Allah?”
Jawabannya: Seseorang harus menanggapi orang seperti itu dengan, “Kita semua berkata, ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak di sembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”
Apa Arti Syahadat bahwa Muhammad Utusan Allah?
The scholars have explained this testimony as follows: “Obeying him in what he commanded; staying away from that which he forbade or censured; believing him in that which he informed, and not worshipping Allah except by that which he legislated.” This is the correct meaning of the testimony that Muhammad is the Messenger of Allah.Para ulama telah menjelaskan kesaksian ini sebagai berikut: “Mematuhi beliau dalam apa yang diperintahkan; menjauh dari apa yang beliau larang atau peringatkan; percaya pada apa yang beliau sampaikan, dan tidak menyembah Allah kecuali dengan apa yang beliau perintahkan.” Ini adalah arti yang benar dari kesaksian bahwa Muhammad adalah utusan Allah.
If one says, “My Madh-hab is such and such or such and such.” we say to him, “This is the saying of the Messenger of Allah ShalAllaahu Alayhi wa Sallam, so do not oppose it with the saying of anyone else.”Jika seseorang berkata, “Mazhabku adalah ini dan itu atau ini dan itu.” katakan padanya, “Ini adalah ucapan Rasulullah ShalAllaahu Alayhi wa Sallam, jadi jangan menentangnya dengan ucapan orang lain.”
Even the Imams of the Madhahib (plural of Madh-hab) forbade others from blindly following them (in the complete sense of blind following); they would say, “Whenever the truth becomes manifest, it is compulsory to return to it (and to forsake what one previously held as being correct).”Bahkan para Imam dari Madhahib (jamak dari Mazhab) melarang orang lain untuk mengikuti mereka secara membuta (dalam arti sebenarnya seperti orang buta dalam mengikuti suatu petunjuk); mereka akan berkata, “Kapanpun kebenaran menjadi nyata, adalah wajib untuk mengikutinya (dan untuk meninggalkan apa yang sebelumnya di anggap benar).”
We say to the brother who opposes us with the Madh-hab of such and such person, “Both we and you bear witness that Muhammad is the Messenger of Allah; this testimony requires from us that we follow no one save the Messenger of Allah ShalAllaahu ‘Alayhi wa Sallam.”Kita katakan kepada saudara yang menentang dengan mazhab ini dan itu, “Kita sama-sama bersaksi bahwa Muhammad adalah Utusan Allah; kesaksian ini menuntut kita untuk tidak mengikuti siapa pun kecuali Rasulullah ShalAllaahu ‘Alayhi wa Sallam. “
The Sunnah is plain and clear, and it is easily accessible to us. At the same time, however, I do not mean that we should make light of the importance of referring to the books of Islamic Jurists and people of knowledge, for seeking out knowledge cannot be achieved until one refers to their books, in order to benefit from them and to learn the ways of deriving rulings from proofs.Sunnah itu mudah juga jelas, dan mudah di akses oleh kita. Namun, pada saat yang sama, saya tidak bermaksud kita harus menjelaskan pentingnya merujuk pada kitab-kitab ahli hukum Islam dan orang-orang yang berilmu, karena mencari ilmu tidak dapat di capai sampai seseorang mengacu pada buku-bukunya, untuk mendapatkan manfaat dan untuk mempelajari cara mendapatkan suatu putusan dari bukti-bukti.
Hence, we find that those who did not learn at the hands of the scholars made many mistakes (in their rulings and judgments). As a result, their outlook became narrow and constricted. One of them will take Sahih al-Bukhari, for instance, and follow all of the implications of the ahadith found therein, even though some of those ahadith are general in their implications while others have exceptions to the rulings they impart; some are absolute in their implications while others are applied to limited situations only (by dint of other proofs). Some ahadith are even abrogated. However, those we just described are not guided to these matters. What results in much misguidance?Oleh karena itu, kami menemukan bahwa mereka yang tidak belajar kepada para ulama membuat banyak kesalahan (dalam keputusan dan penilaian mereka). Akibatnya, pandangan mereka menjadi sempit dan terbatas. Salah satu dari mereka akan mengambil Sahih al-Bukhari, misalnya, dan mengikuti semua implikasi dari hadits yang ditemukan di dalamnya, meskipun beberapa dari hadits tersebut bersifat umum dalam implikasinya sementara yang lain memiliki pengecualian terhadap aturan yang mereka berikan; beberapa mutlak dalam implikasinya sementara yang lain diterapkan pada situasi terbatas saja (dengan bukti lain). Beberapa hadits bahkan di cabut. Namun, hal-hal yang baru saja kami jelaskan tidak di pandu ke masalah ini. Apa yang menyebabkan banyak kesalahpahaman?
What is important, brothers is that we base the present-day Islamic awakening upon two foundations: Allah’s Book and the Sunnah of Allah’s Messenger ShalAllaahu ‘Alayhi wa Sallam. We must not give preference to any saying over them, no matter who it is that is in opposition to them.Yang penting, saudara-saudara adalah bahwa kita mendasarkan kebangkitan Islam saat ini di atas dua landasan: Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah ShalAllaahu ‘Alayhi wa Sallam. Kita tidak boleh lebih memilih perkataan selain keduanya, tidak peduli siapa pun mereka.

Published by Nazhan Kamal

Ex-vampire who travel Indonesia for coffee, sea breeze, and friendship. Owner/tutor of engRIsh, founder of Indonesia Hyperhidrosis Center, ex-hotelier in UK-USA-MV.

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: